Tak Usah Bicara Baik, Berbuatlah Baik
Suatu pagi saya jalan menyusuri jalanan Majalengka. Hitung-hitung napak tilas. Busyet! Banyak sekali baligo, banner, spanduk bertema Pemilihan Kepala Daerah yang rencananya akan dilaksanakan bulan Oktober 2008. Perang sedang berlangsung. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, saya hitung. Wah ada enam figur yang foto dan namanya sudah terpampang. Entah untuk Calon Bupati atau Calon Wakil Bupati.
Syukurlah, kemeriahan demokrasi sampai juga ke kota ini. Pada akhirnya rakyatlah yang akan memilih. Dari sekian banyak baligo, saya tertegun cukup lama pada baligo salah satu calon. Bukan apa-apa, saya hanya mencoba mencerna kalimat yang tertera pada baligo tersebut. “Tak Usah Bicara Baik, Berbuatlah Baik”.
Berkali-kali saya mengeja dan berkali-kali pula alam pikir saya mencoba memahami. Saya mulai tergelitik menerawang, membuat analogi-analogi. Betulkah kita hanya cukup berbuat baik tanpa perlu berkata baik? Ataukah sudah sah-sah saja ketika kita berbicara kasar atau kotor selama kita berbuat baik?
Mungkin. Ini mah dugaan saya. Maksudnya adalah “Jangan banyak bicara, tapi banyak berbuat”. Entahlah. Ini bukan masalah perasaan. Bukan masalah saya suka atau tidak suka kepada sang tokoh yang wajahnya terpampang di baligo tersebut. Bagaimana pun baligo, akan menjadi masalah sosial. Juga moral.
Baligo, pun hanya sebagai alat peraga kampanye, terpampang di setiap sudut kota, dibaca ratusan pasang mata silih berganti. Maka seyogyanya baligo memuat pesan-pesan moral. Mengandung energi dan aura positif bagi yang melihat dan membacanya.
Tim kampanye, selain juga tangguh (baca; rela berkorban sampai mati), juga harus punya kearifan, punya pengetahuan yang cukup tentang segala hal. Ayo kita tumbuhkan demokrasi yang cerdas dan sehat untuk Majalengka tercinta.
Dedi berkata,
April 12, 2008 pada 9:25 am
Jangan coba-coba usil Bung!!!