Bom Beli, Bukan Bom Bali
Saat ini, Amrozi atau Imam Samudera cs sedang menikmati hari-hari terakhir mereka. Eksekusi mati kabarnya akan dilaksanakan dalam waktu dekat pada para pelaku kasus Bom Bali ini. Bom Bali. Teror kemanusiaan yang memilukan. Terjadi di Bali. Pulau tujuan wisata paling utama di Indonesia. Menjadi pusat perhatian dunia. Puluhan korbannya adalah para ekspatriat. Bule-bule yang sedang melancong.
Dua hari yang lalu, kawan saya yang tinggal di Majalengka memberi kabar. Tidak tanggung-tanggung. Majalengka ‘diguncang’ bom. Deg! Saya langsung teringat nenek saya yang sudah tua dan sakit-sakitan nun jauh di Majalengka. Jangankan ledakan bom, mendengar suara petasan saja sudah jatuh terduduk. Lemas lunglai.
Satu tarikan nafas kemudian kawan saya menimpali. “Bukan ledakan Kang, tapi baru isu”. Plong. Syukurlah. Betapa tidak. Beberapa tahun silam ketika ledakan Bom Bali II terjadi dimana salah satu pelakunya disangkakan Salik Firdaus yang diidentifikasi orang Majalengka, saya turut terbawa-bawa repot. Pihak Imigrasi, pejabat kampus silih bergantian memanggil untuk klarifikasi. Jelas, karena dalam seluruh dokumen imigrasi dan jidat saya tertera “Made In Majalengka”.
Nah, tidak terbayang jika di Majalengka benar-benar bom meledak. Booomm!! Pasti saya langsung di deportasi.
Kenyataannya hanya sebuah isu. Siapakah gerangan yang berani bermain-main dengan isu bom? Setahu saya perbuatan ini termasuk tindak pidana. Kriminal, sebutan untuk pelakunya. Tapi apa motifnya? Setelah teman saya menceritakan bahwa kejadiannya di gedung parlemen, melibatkan salah satu unsur pimpinan parlemen yang juga Cabup, bla..bla..bla. Imajinasi saya malah menggiring alam pikir saya, jangan-jangan …jangan-jangan…
Bukan su’udzon. Saya hanya berusaha menjelaskan bahwa isu patriotisme, heroisme, teraniaya dan tertindas adalah pilihan publikasi yang sangat jitu. Bak sinetron yang membuai jutaan pemirsa di Indonesia. Bak mejik, hipnotis. Jantungnya strategi, seperti tokoh Satria Piningit yang sedari saya kecil hingga saya punya tiga anak kecil, tetep belum muncul-muncul. Lebih murah dibanding bikin ratusan baligo. Apalagi kabarnya hampir semua Cabup dan Cawabup memang sedang ‘kekurangan darah segar’ seperti PMI kita.
Jaman sekarang tidak ada isu yang tidak bisa dibeli. Banyak kriminal berotak encer yang siap menerima sejumlah imbalan. Paling mengeluarkan tambahan uang saku untuk bapak pulisi. Apapun, sekarang memang selalu ada tokonya.